Arema FC diusir Aremania dari Malang dan didesak keluar dari Liga 1

AREMA CRONUS –¬†Bertubi-tubi. Seperti itulah situasi pelik yang dialami oleh Arema FC saat ini. Seolah tidak ada habisnya imbas dan dampak dari tragedi Kanjuruhan yang harus dihadapi oleh Singo Edan. Pertama-tama Arema diganjar hukuman denda material dan dilarang untuk bertanding di kandang sendiri sampai Liga 1 berakhir. Hingga pihak manajemen terus berupaya mencari stadion yang bisa digunakan untuk dijadikan homebase sementara. Namun sudah empat kota yang menolak, yakni Bali, Magelang, Bantul, dan Semarang. Sementara Liga 1 terus bergulir, Singo Edan bahkan belum memiliki homebase untuk menjamu lawannya.

Dan dua yang terbaru adalah Arema FC disebut-sebut sebagai biang keladi dihentikannya Liga 2 dan Liga 3 dan Arema diprotes dan didesak oleh pendukunganya sendiri karena dinilai tidak memiliki simpati terhadap keluarga korban tragedi Kanjuruhan.

PSSI telah mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan Liga 2 dan Liga 3. Kabarnya keputusan tersebut dibuat atas keinginan beberapa klub peserta dan juga merupakan efek dari tragedi Kanjuruhan yang menempatkan PSSI dan sepakbola tanah air di bawah spotlight. Dimana proses penanganan dan penyelidikannya melibatkan Pemerintah RI dan FIFA dan mendapatkan perhatian banyak orang dari dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, banyak peraturan baru yang dibuat dengan maksud untuk membenahi kondisi sepakbola tanah air. Salah satunya adalah untuk menyelenggarakan sebuah pertandingan sepakbola, maka harus memiliki sarana dan prasarana yang sesuai dengan standar dan peraturan terbaru. Tujuannya untuk meminimalkan terjadinya tragedi di lapangan sepak bola.

Keputusan PSSI dan PT. LIB tersebut langsung menimbulkan protes. Salah satu protes datang dari Asosiasi Pemain Profesional Indonesia (APPI). APPI menyebutkan bahwa keputusan dihentikannya Liga 2 dan Liga 3 sebagai sebuah kemunduran dalam sepakbola tanah air. Keputusan tersebut juga dianggap sepihak dan mendadak. Pasalnya keputusan tersebut dibuat berdasarkan kesepakatan dengan beberapa klub bukan keseluruhan.

Netizen kemudian ramai-ramai mencecar Arema setelah keputusan pemberhentian Liga 2 dan Liga 3 tersebut diumumkan. Mereka menganggap Arema turut bertanggung jawab atas terjadinya tragedi Kanjuruhan. Keberatan dinyatakan terlebih karena Arema masih dapat melanjutkan pertandingan di Liga 1 sementara klub-klub di Liga 2 dan Liga 3 tidak dapat dan malah akan menghadapi kerugian dan banyak pemain akan kehilangan pekerjaan.

Dan keputusan manajemen Arema untuk lanjut bermain di Liga 1 sementara proses pengadilan Tragedi Kanjuruhan masih berlangsung. Hal tersebut yang akhirnya menjadi puncak kemarahan pecinta sepakbola tanah air dan terutama Aremania sendiri. Puluhan Aremania mendatangi Kantor Arema FC di Jalan Mayjend Panjaitan, Kota Malang, pada Minggu, 15 Januari 2023. Aremania juga menyegel kantor Arema FC karena kecewa dengan sikap manajemen yang dianggap tidak memiliki empati pada keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan. Selain meminta Arema FC mundur dari kompetisi Liga 1, Aremania juga mengusir Arema FC dari Malang Raya. Aremania tidak ingin Arema FC beraktifitas di wilayah mereka. Aremania menilai klub seolah tanpa dosa dengan sepenuh hati melanjutkan kompetisi kembali dan menanggalkan empati seolah tragedi ini tak pernah terjadi